Produsen pupuk non subsidi, Saraswati Group, membangun pabrik baru di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara. Hal itu disampaikan CEO Saraswanti Group, Hari Hardono, di sekretariat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), paska Musda ke XII akhir pekan lalu.

“Kami targetkan masing-masing pabrik berkapasitas produksi 100 ribu ton per tahun, akhir 2014 ini pabrik selesai dan bisa langsung produksi,” kata Hari Hardono, Selasa (16/9/2014).

Dengan peningkatan kapasitas produksi, ujar Hari, pihaknya juga menargetkan bisa menguasai pasar pupuk non subsidi hingga 10 persen. Saat ini, pasar pupuk produk Saraswati Group masih 2 persen, dan 3 persen untuk pupuk non-subsidi di tanah air. “Tidak langsung sih, tapi bertahap sampai 5 tahun ke depan,” kata Hari yang mengawali membangun pabrik pupuk di Sidoarjo dan Mojokerto itu.

Hari menambahkan, pihaknya saat ini menyiapkan investasi Rp 150 miliar untuk kedua pabrik pupuk tersebut. Investasi itu hanya digunakan untuk proses produksi, belum termasuk modal kerja.

Grup Saraswanti sendiri saat ini mempunyai enam perusahaan, yang memproduksi pupuk dengan kapasitas total sekitar 230 ribu ton per tahun. Produnya masih terkonsentrasi menyuplai kebutuhan perkebunan kelapa sawit dengan alokasi distribusi mencapai 40 persen, perkebunan karet 20 persen-30 persen, perkebunan tebu 20 persen, dan sisanya memenuhi kebutuhan kebun-kebun kopi dan kakao.

Kebutuhan pupuk di Indonesia masih sangat besar. Sebagai negara agraris, dengan luas penggunaan lahan pertanian 80 juta hektar, yang terdiri dari lahan sawah & non sawah (Tegalan) mencapai 55 juta hektar, dan perkebunan 25 juta hektar.

“Luasnya akan meningkatkan permintaan pupuk, karena itu kami masih investasi di bidang ini dengan fokus pada pupuk non-subsidi khususnya untuk perkebunan. Dengan kebutuhan total di Indonesia mencapai¬† 14,97 juta ton tahun ini, tentunya sangat potensial,” tandas Hari.

Dikutip dari www.surabaya.tribunnews.com