PENDAHULUAN

Pupuk merupakan salah satu variable, yang kebutuhannya cukup besar.  Menurut catatan Biro Pusat Statistik (2014), berdasarkan luas areal pertaniannya, kebutuhan pupuk di Indonesia mencapai setara sekitar 15-20 juta ton/ha/tahun. Disisi lain, kemampuan alokasi produksi pupuk nasional baru mencapai sekitar 8-10 juta ton/ha/tahun atau  sekitar 40-50 persen dari kebutuhan totalnya. Masih terdapat kesenjangan suplai demand pupuk.  Diketahui bahwa untuk negara agraris, pupuk memiliki arti perekonomian yang sangat penting.  Hambatan dan gangguan dalam tahap pengadaan pupuk akan berpotensi mengancam stabilitas pembangunan nasional.

Akhir-akhir ini telah banyak dilaporkan baik di media cetak maupun elektronik mengenai infiltrasi pupuk ilegal di wilayah pertanian. Pemalsuan pupuk yang beredar telah meresahkan masyarakat dan pemerintah. Permasalahan pemupukan di Indonesia ditenggarai masih memiliki efisiensi yang masih relatif rendah.  Penggunaan pupuk palsu pada budidaya tanaman yang tidak teridentifikasi awal dengan baik, akan menimbulkan persoalan yang lebih kompleks, tidak saja masalah inefisiensi,  pendapatan hasil usaha yang menurun, masalah hukum, tetapi juga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan.  Dengan demikian, permasalahan pupuk palsu apabila tidak tertangani secara baik, maka akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Keberadaan pupuk ilegal, khususnya pupuk palsu sengaja diciptakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan untuk mencari keuntungan.  Di Indonesia, permasalahan pupuk palsu sering terjadi dikarenakan sekurang-kurangnya terdapat dua faktor pemicu utama, yaitu; permasalahan disparitas harga pupuk dan kebutuhan pupuk yang sangat besar.   Perbedaan harga pupuk untuk jenis pupuk yang sama, yaitu antara pupuk subsidi dan non subsidi dijadikan cara untuk mengeruk keuntungan.  Kondisi kesenjangan suplai-demand pupuk, menunjukkan potensi  peluang pasar yang sangat besar.  Kondisi tersebut diperparah lagi oleh kebutuhan pupuk berada pada periode waktu yang sempit (musim pemupukan), kebutuhannya serentak dan sering terjadi kelangkaan pupuk.  Faktor lain, pemalsuan pupuk juga kemungkinan didorong oleh begitu mudahnya cara-cara memproduksi pupuk dan sangat meruahnya bahan baku yang dapat digunakan untuk memalsukan pupuk di lapangan.

Berbagai upaya baik yang preventif maupun yang represif dari pihak keamanan untuk menekan pupuk ilegal dan pupuk palsu sudah dilakukan. Tindakan pengawasan tata niaga pupuk dan regulasi peraturan di bidang pemupukan dan landasan payung hukumnya terus disempurnakan. Namun tetap saja pemalsuan pupuk acapkali terjadi, seperti tidak ada efek jeranya. Tindakan preventif melalui deteksi dini keberadaan pupuk palsu adalah nampaknya cara yang paling efektif. Cukup banyak metode untuk mendeteksi pupuk palsu dari cara yang sederhana maupun yang lebih modern. Studi kasustik tentang kejadian pemalsuan pupuk hendaknya dapat dijadikan pengalaman untuk memilih metode atau cara-cara identifikasi yang bijaksana.

Tulisan ini disajikan bertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai penggunaan dan penyebaran pupuk palsu dengan modus operasional yang sering dijumpai di lapangan serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi, mengenal dan membedakan antara  yang benar-benar pupuk dan pupuk palsu.  Selain itu, dijelaskan juga gambaran pengaruh penggunaan pupuk palsu terhadap produktifitas dan kerugian agribisnis yang ditimbulkan.

 

PENGERTIAN PUPUK PALSU DAN LANDASAN HUKUMNYA

Untuk membedakan antara yang benar-benar pupuk dengan pupuk ilegal maka sebaiknya diawali dengan pemahaman definisi pupuk terlebih dahulu. Pengertian pupuk adalah suatu materi yang berupapadatan, cairan atau pun gas yang mengandung nutrisi hara yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi tanaman.  Engelstad (1989) mengemukakan tidak hanya bentuk fisik, kandungan dan manfaatnya saja arti dari pupuk, tapi hal yang cukup penting adalah disebut pupuk apabila pupuk tidak bersifat racun atau. Sebagai contoh kayu memenuhi syarat fisik dan kondisi kandungan hara di dalamnya, akan tetapi hara tersebut tidak dapat dimanfaatkan maka kayu tidak dianggap sebagai pupuk. Contoh lain adalah Borax dengan kadar dan dosis yang tinggi sehingga menyebabkan tanaman yang diberi materi tersebut mengalami kerusakan karena keracunan, maka seyogyanya bahan tersebut untuk saat itu tidak dianggap sebagai pupuk.

Berdasarkan Kepmentan No.237/Kpts/OT.210/4/2003, tentang Pedoman Pengawasan Pengadaan, Peredaran, dan Penggunaan Pupuk an-Organik, pupuk palsu didefinisikan sebagai pupuk yang isi dan atau mutunya tidak sesuai dengan label atau pupuk yang merek, wadah, kemasan dan atau labelnya meniru pupuk lain yang telah diedarkan secara legal.  Kemudian yang dimaksud pupuk ilegal, yaitu pupuk yang tidak terdaftar atau telah habis masa berlaku nomor pendaftaran yang diberikan atau pupuk tidak berlabel. Label tersebut sekurang-kurangnya memuat keterangan tentang nama dagang, kandungan hara, isi atau berat bersih barang, masa edar, aturan pakai/cara penggunaan, nama dan alamat produsen. Di jelaskan pula bahwa pupuk dikatakan pupuk illegal memenuhi kriteria ; (a) tidak dilengkapi dokumen sesuai peraturan, (b) cara produksi pupuk yang tidak syah dan (c) pupuk palsu tidak sesuai mutunya.  Pupuk asli yang telah sesuai spek, bisa saja dianggap pupuk ilegal apabila pupuk tidak dilengkapi dokumen perizinan yang sah atau pupuk asli telah sesuai mutunya tersebut tetapi diproduksi dengan cara yang tidak sah, seperti misalnya produksi pupuk NPK nonsubsidi menggunakan bahan baku pupuk yang bersubsidi.

Landasan hukum dalam hal pengaturan pupuk adalah pelaksanaan dari Undang-undang No.12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, diikuti oleh Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2001 tetang pengaturan pupuk budidaya tanaman dan beberapa Keputusan Menteri Pertanian (kepmentan), seperti No.02/Pert./HK.060/2/2006dan No.237/Kpts/OT.2010/4/2003 tentang Pedoman Pengawasan Pengadaan Peredaran dan Penggunaaan Pupuk. Diketahui bahwa pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang mempunyai peranan penting dalam peningkatan produksi dan mutu hasil budidaya tanaman. Kemudian, untuk memenuhi standar mutu dan menjamin efektivitas pupuk, maka pupuk yang diproduksi harus berasal dari formula hasil rekayasa yang telah diuji mutu dan efektivitasnya. Kemudian pupuk yang diedarkan untuk penggunaan disektor pertanian haruslah terdaftar dan memenuhi standar mutu atau persyaratan teknis minimal.

 

DINAMIKA PUPUK PALSU

 

A. Penyebaran Pupuk Palsu

Informasi data yang akurat mengenai kuantitas dan penyebaran pemalsuan pupuk secara nasional tidak diketahui secara pasti.  Pelaporan dari suatu kegiatan yang dilakukan secara empiris mengenai pupuk ilegal sangat minim dan kalau pun ada, hasil-hasilnya hampir jarangterekspose dalam suatu laporan resmi.  Hal ini disebabkan, bahwa pemalsuan pupuk merupakan suatu tindakan ilegal yang melanggar hukum. Operasional pemalsuan pupuk dilakukan secara tersembunyi, tertutup, melakukan segala cara mengelabui masyarakat dan aparat pemerintah sertapada umumnya kegiatan pemalsuan pupuk dilakukan  terorganisir secara baik.  Sehingga, data pemalsuan pupuk yang terhimpun di lapanganlebih banyak bersifat kasustik. Namun, secara umum dijumpai bahwa pola penyebaran pupuk palsu terjadi di sekitar lokasi sentra-sentra wilayah pertanian.  Kemudian, aktivitas pemalsuan pupuk meningkat apabila mendekati musim-musim pemupukan tanaman budidaya.

Gambar 1.  Peta sebaran temuan pupuk ilegal di areal pertanian di Indonesia 2012-2014

Berdasarkan data kasustik, temuan pemalsuan pupuk di Indonesia tersebar pada rentang yang sangat luas.  Peta penyebaran pupuk ilegal di Indonesia disajikan pada Gambar 1.Penggunaan pupuk palsu dijumpai mulai dari wilayah paling barat yaitu di Propinsi Aceh sampai di wilayah timur yaitu di Propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.  Di Sumatera, temuan pupuk palsu banyak dijumpai di Propinsi Sumatera Utara (Medan, Rantang, Hamparan perak, Brastagi), Riau (Siak, Bengkalis dan Kampar), Padang (Solok, Padang, Paya kumbuh),  dan Lampung (Bandar Lampung).  Kemudian, di Pulau Kalimatan tercatat temuaan kasustik serupa di Propinsi Kalbar (Sintang, Sekadau dan Ketapang) dan di Propinsi Kaltim (Balikpapan dan Berau).  Di Pulau Sulawesi, pemalsuan pupuk dijumpai di Kaloka, Sulteng dan di Enrekang, Sulsel.  Diketahui bahwa daerah-daerah tersebut pada umumnya merupakan sentra produksi areal pertanian dan perkebunan.

Kasustik temuan pemalsuan pupuk yang terbanyak dijumpai di Pulau Jawa, yang penyebarannya mulai dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur. Pulau ini marak menjadi ladang pemalsuan pupuk, dikarenakan selain dikenal sebagai sentra produksi pertanian nasional, juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya produsen-produsen pupuk andalan. Sesungguhnya pupuk palsu, tidak hanya diproduksi dan dipasarkan di lokasi wilayah yang sama dengan penyebarannya, akan tetapi mobilisasi pupuk palsu banyak jugaterjadi antar kota, antar kabupaten, antar propinsi bahkan antar pulau.  Pupuk palsu acapkali dijumpai di daerah pertanian yang terpencil, yang cukup minim informasi perkembangan teknologi pertanian di wilayah tersebut.

 

B. Modus Pemalsuan Pupuk

Modus operasi pemalsuan pupuk atau pupuk ilegal beraneka ragam.  Berdasarkan data kasustik temuan di lapangan bahwa pemalsuan pupuk dapat dikelompokan berdasarkan : ilegal perizinan, pemalsuan merek pada kemasan dan pemalsuan spek mutu.  Sesuai UU No. 12 tahun 1998 dan PP No. 8 Tahun 2001 mengenai pengaturan pupuk bahwa pupuk yang diproduksi oleh perorangan maupun badan hukum harus dilengkapi persyaratan perizinan dari daerah setempat, pedoman dan standar teknis Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, izin edar Kementrian Pertanian dan Standar Nasional Indonesia (SNI).  Data kasustik di lapangan menunjukkan bahwa pupuk yang beredar telah bermasalah hukum dikarenakan tidak memiliki ijin operasional pabrik (Mojokerto, Jatim), merk tidak terdaftar (Balikpapan, Kaltim), tidak memiliki izin edar (Blitar, Nganjuk, Jatim) dan tidak ber-SNI (Sekadau, Kalbar; Semarang, Jateng dan Bengkulu).

Meskipun permasalahan merk pupuk sering dimasukan kedalam persoalan perizinan pupuk, akan tetapi kasus-kasus pemalsuan merk sering bersifat spesifik.  Perubahan nama tulisan merk asli dengan merk yang tertulis mirip dengan asli, atau simbol logo atau nama perusahaan pada kemasan pupuksering dijumpai pada pemalsuan pupuk.  Sebagai contoh tulisan merk asli PHONSKA Tertulis PONSKAH atau PHOSKA dengan kandungan unsur yang mirip dengan kandungan unsur pada pupuk aslinya (Kolaka-Sulteng, Tulung Agung,Blitar-Jatim, Boyolali-Jateng).  Beberapa kasus dijumpai logo kepala sapi diganti logo kepala kambing dengan merk yang sama (kolaka-Sulteng, Enrekang-Sulsel).  Di beberapa tempat dijumpai pemalsuan pupuk yang dilakukan dengan dengan penggantian isi pupuk dengan pupuk lain yang berbeda sifat fisik dan kimianya pada suatu kemasan dan label merk yang sama.

Tindakan pemalsuan pupuk yang paling sering dijumpai adalah modus pemalsuan spek mutu.  Berbagai cara dan upaya yang yang disengaja menyebabkan kandungan pupuk yang diproduksi tidak sesuai dengan speknya dilakukan dengan cara ; subtitusi dengan bahan sejenis, oplosan pencampuran dengan bahan laindan tidakan pencucian (blatching) pupuk. Intinya adalah, tindakan pemalsuan pupuk sedemikian rupa menyebabkan kadar mutu menurun, sehingga harga persatuan nutrisi menjadi lebih murah.  Kandungan nutrisi pupuk dari hasil analisa laboratorium yang tidak sesuai umumnya menjadi lebih rendah dibanding spek yang tertulis di dalam kemasan dikategorikan sebagai pupuk palsu.

 

C. Jenis-Jenis Pupuk Yang Dipalsukan

Jenis pupuk yang dipalsu adalah jenis pupuk buatan dan pada umumnya adalah dari kelompok pupuk anorganik.Data kasustik menunjukkan hampir jarang tercatat atau dilaporkan terjadinya pemalsuan pupuk untuk jenis pupuk organik atau hayati. Diketahui bahwa pupuk buatan anorganik hara makro NPK merupakan pupuk yang berkemampuan cepat dan signifikan pengaruhnya terhadap peningkatan produksi sehingga banyak dibutuhkan pengguna pertanian.  Selain itu, disparitas harga pupuk anorganik dengan potensi keuntungan yang cukup besar  menjadi hal menarik para pelaku pemalsu pupuk untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.  Hal lain yang menjadi pemicu pemalsuan pupuk anorganik adalah sering terjadi kelangkaan pupuk ini sebagai akibat demand-suplai yang masih minus dan kebutuhan pupuk terjadi secara serentak.

Hampir semua pupuk anorganik yang beredar resmi,baik itu pupuk tunggal maupun pupuk majemuk telah dipalsukan.  Data kasustik menunjukkan bahwa jenis pupuk bersubsidi merupakan jenis pupuk yang banyak dipalsukan, yaitu untuk pupuk tunggal ;  Urea dan ZA (jenis pupuk N) dan SP36 (jenis pupuk P) dan pupuk majemuk NPK yaitu Phonska.  Di luar pupuk subsidi yang banyak ditemukan pemalsuan di lapangan adalah pupuk tunggal KCl.  Pupuk lain, yang secara kasustik dijumpai di lapangan adalah pupuk majemuk NPK yang tidak sesuai spek mutunya.

Pupuk palsu atau pupuk yang kandungan nutrisi tidak sesuai mutunya merupakan kasustik yang banyak dijumpai pada pemalsuan pupuk bersubsinya.  Pupuk urea ((NH2)2CO dan ZA ((NH4)2SO4) yang sering mengalami kelangkaan di lapangan dipalsu kandungannya dengan cara dioplos atau dicampur parsial dengan bahan lain yang memiliki sifat fisik terutama warna yang relatif hampir sama, seperti misalnya bahan kapur (CaCO3), dolomite (Ca Mg (CO3)2), clay putih dan tepung tapioka.  Pencampuran urea atau ZA dengan bahan pengoplos akan menurunkan kadan N dalam urea palsu, kemudian harga persatuan kilogram  bahan-bahan pencampur memiliki harga lebih murah dibanding urea maupun ZA.  Kasus lain yang telah banyak dilaporkan pupuk illegal untuk urea dan ZA adalah pengalihan dari urea bersubsidi ke urea non subsidi, baik yang dilakukan dengan cara penjualan langsung di tingkat petani atau ditemukannya produsen pupuk yang memproduksi pupuk NPK non subsidi.

Pemalsuan pupuk untuk jenis unsur P dan unsur K, secara teknis banyak dijumpai di lapangan hampir sama dengan pupuk N yaitu tindakan subtitusi dan pencampuran pupuk dengan bahan-bahan sejenis.  Pupuk SP36 yang berwarna kelabu hitam dipalsukan dengan pencampuran bahan pupuk menggunakan tanah atau clay hitam, campuran arang dan rock phosfat.  Sedangkan pupuk KCl lebih sering dipalsukan dengan menggunakan gram NaCl yang yang secara fisik baik ukuran partikel dan strukturnya hampir sama yaitu berbentuk kristalin.  Diketahui, bahwa secara alami KCl ada yang berwarna merah (KCl dari Belarus), berwarna putih (KCl dari Kamboja dan Laos) dan campuran antara putih dan merah (KCl dari Kanada).  Pemalsuan pupuk KCl berwana merah biasanya dipalsukan dengan menggunakan pencampuran NaCl ditambah dengan clay merah. Sedangkan KCl putih bisa secara langsung dipalsukan dengan subtitusi 100% menggunakan NaCl atau di oplos campuran secara parsial.  Diketahui bahwa harga persatuan kilogram NaCl relatif lebih murah dibanding harga KCl.

Kasus pemalsuan pupuk makro NPK pada umumnya dijumpai terkait dengan masalah merk, mutu dan legalitas perizinan. Permasalahan merk terkait dengan persoalan subtitusi merek atau subtitusi kandungan pupuk.  Dalam kemasan karung, pupuk NPK palsu biasanya diisi oleh bahan-bahan yang secara fisik baik warna dan ukuran butir relatif sama.  Komposisi mutu bahan pemalsu pupuk NPK ini relatif lebih rendah dibanding mutu NPK yang tercatat pada kemasan.  Kasutik ilegal pupuk NPK lebih banyak dijumpai dikarenakan ketidak lengkapan dokumen perizinan.   Perkembangan teknologi terkini dalam hal penentuan dosis dan spek pupuk NPK berbasis hasil analisa tanah dan daun serta kemampuan produsen pupuk yang mampu memproduksi pupuk NPK sesuai pesanan (by order, tailor made) telah menghasilkan begitu banyak variasi komposisi kandungan unsur N, P dan K dalam spek pupuk.  Kualitas pupuk majemuk NPK sering diragukan dan proses penyelesaian perizinan yang lambat sering menjadi kendala pupuk ini menghadapi temuan sebagai pupuk ilegal.  Sebagai mana diketahui, bahwa peredaran pupuk yang diatur perizinannya berdasarkan UU No 12 tahun 1989 dan PP No. 8 tahun 2003 mengenai penjelasan mutu pupuk mengacu kepada SNI untuk spek utama dan spek khusus sesuai pesanan khusus (by order, tailor made) diatur berdasarkan pendaftaran pupuk menurut peraturan Menteri Pertanian No. 49/KPTS/Deptan/2013. Tidak mengikuti persyaratan dan ketentuan peraturan tersebut dikatagorikan sebagai pupuk palsu.

 

D. IDENTIFIKASI PUPUK PALSU

Telah disebutkan di atas bahwa pemalsuan pupuk dilakukan dengan beranekaragam modus kejadian.  Penggunaan data kasustik dan temuan pupuk palsu di lapangan dapat dijadikan pelajaran dan pengenalan dalam mengidentifikasi pupuk palsu.  Temuan pemalsuan pupuk ada yang dengan mudah dikenal dengan metode sederhana, tetapi ada juga yang dalam pengenalannya tidak mudah dibedakan dengan pupuk aslinya, sehingga diperlukan cara dan metode yang lebih kompleks.  Teknologi di bidang analisis kimia kandungan unsur pupuk yang lebih modern dengan hasil pendekteksi secara cepat dan akurat telah dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi keaslian mutu pupuk. Dengan demikian, pengenalan terhadap pupuk palsu berdasarkan modus kejadian dan cara identifikasinya dapat dilakukan dengan cara; pengamatan visual, metode analisis kimia secara cepat (quick test) dan metode analisis kimia di laboratorium.

Secara teknis, pengenalan secara langsung terhadap pupuk palsu tidak mudah dilakukan.  Pada dasarnya, pupuk palsu tidak memiliki karakteristik, baik sifat fisik maupun kimia yang spesifik dan standar. Pembuatan atau pemalsuan pupuk dilakukan dengan cara metode dan penggunaan komposisi bahan pencampur yang beraneka ragam, dengan tujuan menurunkan sebagian atau seluruh kadar mutu nutrisi yang di palsu.  Oleh karena itu, identifikasi pupuk palsu sesungguhnya hanya bisa dilakukan dengan cara mengenal karakteristik standar pupuk asli yang dipalsu dan menentukan seberapa besar penyimpangan atau pergeseran mutu dari standarisasi keasliannya.  Pada Tabel 1 dikemukakan beberapa ciri fisik dan kimia  dari beberapa jenis pupuk yang sering dipalsukan di lapangan.  Setiap jenis pupuk memiliki karakteristik yang spesifik.

Semua sifat yang dimiliki masing-masing jenis pupuk dapat sebagai penanda.  Namun diantara sifat fisik tersebut, masing-masing pupuk memiliki penanda utama yang secara langsung bisa menjadi clue pembeda antara pupuk asli dan pupuk yang dipalsukan.

 

D.1. Pengamatan Visual

Pengamatan visual untuk mengidentifikasi pupuk palsu dapat dilakukan pada kegiatan pengamatan kemasan dan pengamatan teknis sifat fisik pupuk asli yang dicurigai dipalsukan.  Kedua parameter ini biasanya selaras saling mendukung pada kesimpulan bahwa pupuk telah dipalsukan.Tanda atau clue dari kemasan yang dipalsukan biasanya memiliki karakter fisik dan kimia pupuk telah menyimpang dari kondisi mutu aslinya.

Pengamatan secara visual terhadap fisik kemasan pupuk merupakan tahap awal yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi pemalsuan pupuk.  Parameter fisik kemasan karung yang menjadi clue pemalsuan dapat diperhatikan, antara lain ; kualitas karung yang digunakan, labeling dan kualitas jahitan karung.  Pupuk palsu sering menggunakan karung berkualitas rendah, penggunaan karung bekas dan kualitas jahitan tepi karung yang tidak baik. Label pada kemasan karung sekurang-kurangnya memuat keterangan tentang nama dagang, kandungan hara, isi atau berat bersih barang, masa edar, aturan pakai/cara penggunaan, nama dan alamat produsen. Masing-masing parameter labeling sering dipalsukan antara lain ; nama merk, logo perusahaan dan namaperusahaan.

Pengamatan visual secara fisik terhadap kareakter fisik pupuk palsu biasanya dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengamatan dengan sifat karakteristik fisik standar pupuk asli.  Yang terpenting dalam mengamati karakter fisik adalah mencermati sifat fisik utama yang menjadi penciri/clue setiap masing-masing pupuk.Pupuk Urea memiliki clue penanda fisik adalah warna, sifat volatilisasi, bau khas amoniak dan sifat higroskofis, walaupun sekarang telah dikembangkan pupuk urea yang memiliki sifat volatilisasi dan higroskopis yang lebih rendah dibanding sifat urea pada umumnya. Pupuk urea bersubsidi berwarna merah pink, sedangkan urea non subsidi berwarna putih. Pupuk KCl memiliki penanda fisik berbentuk kristalin dan rasa agak sedikit asin.  Namun demikian, pupuk KCl  yang dipalsu dengan menggunakan NaCl agak sulit dibedakan.  Demikian hal yang sama untuk jenis pupuk P khususnya SP36, karena tidak memiliki clue yang spesifik pengamatan karakter fisik sulit dilakukan.  Untuk pupuk NPK dengan campuran ketiga unsur yang terintegrasi secara fisik relatif sulit untuk pemalsuannya. Namun pada kondisi komposisi NPK dengan kandungan K yang tinggi biasanya memiliki organoleftik terasa asin.

 

D.2. Analisis Kimia Quick Test

Kemajuan di bidang teknologi analisa kimia unsursecara cepat dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan (quick test) telah membantu proses identifikasi pupuk palsu.  Analisa kimia unsur tidak hanya dapat dilakukan di suatu ruang laboratorium, tetapi juga analisa kimia unsur dapat dilakukan langsung di lapangan.  Analisa kimia unsur quick testdi lapangan  memilikiproses penyelesaian yang relatif lebih cepat di banding analisa kimia yang dilakukan di laboratorium dengan hasil yang cukup akurat.  Metode analisa kimia unsur di lapangan sangat cocok untuk mengidentifikasi secara cepat pemalsuan pupuk.

Identifikasi pupuk palsu dengan metode analisa kimia quick test dapat menggunakan perangkat uji yang sudah dikembangkan dan dilaksanakan secara komersial yaitu Perangkat Uji Pupuk (PUP) hasil rekayasa dari Balai Penelitian Tanah Bogor dan perangkat uji dari NPK-Meter dari Nurkamari.  Jenis unsur yang mampu dianalisa oleh perangkat ini terbatas pada analisa unsur makro NPK saja dan belum dikembangkan kemampuannya untuk analisa unsur-unsur lain yang diperlukan tanaman.  PUP dikembangkan dengan tujuan untuk membantu pelaku pasar dan petani dalam mendeteksi analisa pupuk secara cepat, hasil cukup akurat dan biaya murah di lapangan.  Alat ini merupakan penyederhanaan metode analisa pupuk di laboratorium dengan estimasi pengukuran unsur kuantitatif dalam selang nilai tertentu.  Prinsip kerja perangkat ini adalah mengekstrak unsur NPK yang terdapat dalam pupuk yang proses penyelesaian analisanya membutuhkan waktu analisa sekitar 30 menit.  Meskipun hasil analisa yang diperoleh tidak seakurat hasil analisa kimia di laboratorium, namun hasil analisa yang cepat dan cukup akurat dapat membantu pengawasan pupuk untuk mengambil upaya-upaya yang diperlukan.  Perangkat Uji Pupuk disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2.  Perangkat Uji Pupuk untuk analisis quick test pupuk hasil rekayasa Balai Penelitian Tanah Bogor (Diah et al., 2007)

 

 D.3. Analisa Kimia Laboratorium

Analisa kimia unsur di laboratorium merupakan cara identifikasi dengan tingkat akurasi yang paling baik.  Identifikasi seluruh materi yang terkandung dalam pupuk, baik unsur anorganik makro maupun mikro serta materi organik dapat terdeteksi dengan metode analisa ini. Hasil analisa penetapan unsure tidak perlu diragukan, sangat akurat dan biaya relatif terjangkau.  Metoda analisa kimia laboratorium dapat mendeteksi penyimpangan mutu akibat tindakan pemalsuan pupuk dapat terdeteksi secara pasti pada tingkat akurasi kesalahan sampai 0,05%.   Prinsip kerja dari metode analisa ini adalah mengekstrasi kandungan suatu materi dalam  contoh pupuk dengan pengektrak kimia spesifik  yang sesuai dengan jenis materi yang dianalisa dan dilakukan pengukuran secara kuantitatif.

Di lapangan, masih sering dijumpai beberapa permasalahan berkaitan dengan identifikasi pupuk palsu dengan metode analisa laboratorium.Kendala umum yang dihadapi deteksi pupuk palsu dengan cara ini adalah waktu penyelesaian, pengambilan contoh, pemilihan laboratorium dan batas toleransi hasil analisa.

 

D.3.1. Waktu penyelesaian analisa kimia

Analisa kimia laboratorium membutuhkan tahapan proses sekurang-kurangnya persiapan contoh, penetapan massa contoh,  preparasi, ekstrasi dan pengukuran.  Waktu yang dibutuhkan penyelesaian analisa kimia di laboratorium untuk seluruh unsur paling cepat  sekitar 5-7 hari.  Sementara disisi lain, deteksi pupuk palsu di lapangan menghendaki waktu identifikasi secara cepat dengan tujuan untuk mengupayakan kebijakan yang pasti dan tepat.

 

D.3.2. Pengambilan contoh yang representatif

Analisa kimia laboratorium dilakukan terhadap suatu contoh yang akan ditentukan ciri kimianya.  Karena kebutuhan dan penggunaan pupuk sering bersifat volumenus, maka tingkat keberhasilan deteksi nutrisi pupuk sangat tergantung pada keberhasilan dan ketepatan dalam pengambilan contoh pupuk. Contoh pupuk untuk analisa kimia yang baik adalah contoh yang dalam pelaksanaan pengambilannya dilakukan cukup representatif dan mewakili populasinya.  Pengambilan contoh pupuk memerlukan metode dan cara tertentu dan seyogyanya dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional yang berpengalaman di bidangnya.   Pada saat ini, Dewan Standarisasi Nasional telah melakukan pembinaan sumberdaya manusia untuk menghasilkan tenaga-tenaga pengambil contoh yang bersertifikasi nasional.  Tenaga-tenaga tersebut terdistribusi di lembaga-lembaga laboratorium yang telah terakreditasi  nasional, seperti contohnya laboratorium sucofindo, Balai Penelitian Tanah, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, dll.

 

D.3.3. Laboratorium kimia terakreditasi

Di Indonesia telah banyak dibangun laboratorium-laboratorium kimia yang berkemampuan untuk menganalisa unsur dalam pupuk, baik  kepemilikan swasta maupun pemerintah.  Sesuai dengan SNI, laboratorium yang telah diakui secara baik adalah laboratorium yang telah terakreditasi secara nasional. Tidak semua laboratorium kimia untuk analisa pupuk telah terakreditasi secara nasional. Untuk menghindari keraguan dan perbedaan pendapat dari hasil hasil analisa laboratorium terhadap contoh pupuk yang diidentifikasi, yang terbaik analisa kimia laboratorium dilakukan di laboratorium terakreditasi secara nasional yang telah memiliki landasan hukum yang pasti.

Tabel 2:  Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kandungan unsur & batas toleransi masing-masing jenis pupuk

 

D.3.4. Batas toleransi mutu hara

Batas toleransi kandungan unsur dalam pupuk adalah batasan nilai yang dapat diterima secara syah dari kandungan unsur yang diperoleh dari hasil analisa laboratorium kimia.  Pemerintah menentukan batas toleransi kandungan unsur dalam pupuk berdasarkan Standar Nasional. Nilai toleransi unsur pada pupuk berdasarkan SNI disajikan pada Tabel 2.Nilai batas toleransi ini penting untuk dipahami oleh setiap pelaku pemupukan dengan tujuan untuk menghindari keraguan dan perbedaan pendapat antar pelaku yang berkepentingan.  Pada kasus tertentu khususnya pesanan pupuk dengan spesifikasi khusus (by order), batas toleransi kandungan unsur pada pupuk ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pengguna (costumer) dan produsen (produser) pupuk yang biasanya dituangkan dalam nota kesepahaman.

 

PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK PALSU TERHADAP USAHA PERTANIAN

Secara teknis inti dari permasalahan pemalsuan pupuk adalah kandungan nutrisi dalam pupuk tidak sesuai spek mutu yang ditetapkan.  Berkaitan dengan fungsi dan manfaat pemupukan, ada dua hal penting yang berpengaruh dari pemalsuan pupuk yaitu mutu nutrisi mengalami penurunan atau bahkan peniadaan kandungan unsur nutrisiyang dipalsukan, serta adanya tambahan bahan-bahan yang secara sengaja ditambahkan untuk mensubtitusi kandungan nutrisi yang dipalsukan.  Apabila pupuk palsu yang tidak terdeteksi diaplikasikan kepada tanaman budidaya, maka dapat dipastikan bahwa kegunaan pupuk tersebut menjadi tidak ada manfaatnya dan secara teknis akan terjadi inefisiensi pemupukan serta memungkinkan akan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan apabila bahan-bahan ikutan mengandung unsur atau senyawa yang dapat mencemarkan lingkungan.  Inefisiensi pemupukan dengan pupuk palsu sekurang-kurangnya akan merugikan dalam hal; waktu pemupukan, penurunan produktivitas dan penurunan pendapatan.

Penggunaan pupuk palsu telah terlanjur teraplikasikan pada tanaman tidak secara cepat diketahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan. Respon tanaman terhadap kinerja pupuk palsu membutuhkan waktu selaras dengan pertumbuhan fisiologis tanaman. Pada tahap awal, penggunaan pupuk palsu pada tanaman akan ditandai gejala defisiensi nutrisi sesuai unsur yang dipalsukan, kemudian dilanjutkan dengan gejala stagnasi pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal.  Pada tanaman semusim, seperti misalnya tanaman padi dan  palawija  efek dari penggunaan pupuk palsu  sepertinya baru terlihat nyata paling cepat setelah umur tanaman 1 bulan.  Pada tanaman tahun efek penggunaan pupuk palsu baru bisa terlihat lebih lama, khususnya terasa terhadap pencapaian produksi yang dihasilkan. Antisipasi penggunaan pupuk palsu dengan penambahan pupuk ekstra sering menjadi tidak efisien dikarenakan penyerapan nutrisi sudah tidak sesuai dengan pola pertumbuhan fisiologis tanaman akibat keterlambatan pemupukan.

Pengaruh reduksi atau pengurangan nutrisi pada aplikasi pemupukan untuk tanaman perkebunan sudah banyak dilakukan.  Pada tanaman sawit, Warrior dan Piggott (1973) melaporkan bahwa tanaman sawit yang mengalami malnutrition hara NK telah menurunkan produktivitas tandan segar sekitar 10-25% dari potensi maksimalnya, Hasil yang sama dikemukakan oleh Caliman et al., (1994) bahwa aplikasi reduksi pupuk hingga 50% dari kebutuhan optimal pupuk telah menyebabkan malnutrition dan mengakibatkan penurunan produksi cukup tajam hingga 30% dari potensi produksi maksimalnya. Penurunan kadar N sebesar 32% dari kondisi optimalnya akibat reduksi aplikasi pemupukan telah menurunkan produksi sawit hingga 25% dari potensi normalnya (Chan et al, 1993).  Pada tanaman tebu, dikemukan oleh Usman, 1997 bahwa reduksi pemupukan P pada tanaman tebu telah menurunkan kadar P dalam daun hingga 25% dan produksi gula hingga 22% terhadap potensi normalnya.  Kemudian Pawirosemadi (1994) mengemukakan bahwa penurunan dosis pupuk N sebanyak 50% dari dosis optimalnya telah menurunkan bobot tebu hingga 35% terhadap potensi hasil maksimalnya.

Penggunaan pupuk palsu akan mengacaukan perencanaan penggunaan dosis yang disarankan. Penurunan atau bahkan peniadaan kandungan nutrisi pada pupukakan menyebabkan pertumbuhan fisiologis tanaman terganggu yang pada akhirnya penurunkan produktivitas tanaman dan bahkan memungkinkan terjadinya kegagalan panen.  Seperti yang telah dilaporkan pelaku petani disentra-sentra produksi, bahwa penggunan pupuk urea yang dipalsu campuran tepung dan dolomite di daerah Jombang-Jawa Timur telah menurunkan hasil gabah kering sekitar 45% dan di Tuban-Jawa Timur mengalami penurunan hingga 65% dari potensi produksi biasanya. Petani di Jepara-Jawa Timur melaporkan bahwa penggunaan KCl palsu dengan bahan pencampur NaCl telah mengakibatkan tanaman padi mengalami puso, tidak bisa dipanen.Di daerah Blitar dilaporkan bahwa dampak penggunaan urea palsu menyebabkanpenurunan produksi jagung hingga mencapai 70% dari potensi produksi biasanya.  Sedangkan pada tanaman tahunan, meskipun belum begitu banyak data yang dilaporkan, namun efek dari penggunaan pupuk palsu akan menurunkan hasil produksi setelah 6-12 bulan periode waktu panen berikutnya.

Salah satu contoh kasus pemalsuan pupuk yang berpotensi dapat menyebabkan kerusakan lingkungan adalah pemalsuan pupuk KCl dengan menggunakan bahan pengganti NaCl studi kasus di daerah pertanian Jepara Jawa Timur. Bahan pengganti pemalsuan pupuk dalam hal ini NaCl memiliki sifat yang berpotensi merusak sifat fisik tanah menjadi kurang menguntungkan untuk media tanah.  Natrium dalam tanah dapat menyebakan reaksi disperse merusak struktur tanah sehingga tanah menjadi kompaks dan pada kondisi kelembaban tanah kering sifat tanah menjadi sangat keras, sulit untuk ditembus perakaran.

Efek penggunaan pupuk palsu terhadap penurunan produktivitas dan produksi pertanian akan selaras pengaruhnya terhadap penurunan pendapatann sampai pada tingkat skala usaha pertanian yang merugi.  Pelaku pertanian yang menggunakan pupuk palsu sekurang-kurangnya akan mengalami kerugian biaya akibat dari losis biaya pembelian pupuk, biaya aplikasi pupuk yang sia-sia dan penurunan biaya hasil sisa usaha.  Kerugian nilai ekonomis akibat dari penggunaan pupuk palsu pada tingkat nasional belum dapat terdata secara baik dikarenakan belum diketahui secara pasti kuantitas resapan pupuk palsu ke pasar-pasar domestik.Namun demikian di negara agraris lain dilaporkan bahwa kerugian akibat penggunaan pupuk palsu cukup besar. Di Vietnam dilaporkan bahwa kerugian negara akibat penggunaan pupuk palsu mencapai 2 juta dolar amerika (Vanbe, 2014). Kemudian di Uganda dilaporkan bahwa resapan pupuk palsu diareal pertaniannya mencapai 10-15% dari kebutuhan total pupuk telah menimbulkan kerugian Negara hingga 3,5 juta dolar (Yiwa, 2015). Kemudian, Crops life Indonesia melaporkan bahwa kerugian Negara akibat penggunaan bahan kimia pertanian palsu pada tahun 2010-2012 mencapai 400-700 miliar rupiah.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Pupuk ilegal dan tindakan pemalsuan pupuk di Indonesia yang sering dijumpai dilapang dipengaruhi kebutuhan pupuk yang cukup besar dan disparitas harga antara pupuk subsidi dan non subsidi. Penyebaran pupuk palsu terjadi di wilayah sentra-sentra produksi pertanian pada kisaran yang luas mulai dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur. Kasus pemalsuan pupuk di lahan pertanian lebih banyak dijumpai di pulau Jawa sebagai basis sentra produksi dan sentara pertanian nasional.
  2. Pupuk bersubsidi anorganik yaitu urea, SP36, Phonska dan pupuk non subsidi KCl merupakan jenis pupuk hara makro yang paling banyak dipalsukandengan berbagai modus operasional pemalsuan dengan cara subtitusi total maupun parsial, yang berdampak kepada penurunan mutu nutrisi.
  3. Identifikasi pupuk palsu dapat dilakukan secara sederhana yaitu melalui pengamatan visual fisik kemasan, labeling dan sifat fisik pupuk yang dibandingkan denga karakteristik standar pupuk yang dipalsukan. Metode analisis kimia cepat  (quick test) dan analisis kimia dilaboratorium memiliki tingkat akurasi yang cukup baik dan akurat dalam mengidentifikasi pupuk palsu.  Tata cara sampling contoh pupuk, pemilihan laboratorium terakreditasi dan pemahaman batas toleransi nutrisi pupuk ber SNI merupakan sarana penunjang yg cukup membantu dalam mengatasi permasalahan identifikasi pupuk.
  4. Penggunaan pupuk palsu telah mengakibatkan inefisiensi dalam pengelolaan pemupukan budidaya tanaman khusus dalam hal waktu keterlambatan, penurunan produktivitas, dan penurunan pendapatan yang dapat menimbulkan kerugian usaha di bidang pertanian.Penurunan produktivitas hasil pertanian akibat penggunaan pupuk palsu bisa menurunkan hasil di atas 50% dari potensinya dan bahkan sampai kegagalan panen. Pada kondisi tertentu, penggunaan pupuk palsu berpotensi merusak lingkungan.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim, 2012. Jenis – Jenis Pupuk dan Spesifikasinya, http://yadizhe.wordpress.com,  Jakarta
  2. Anonim, 2015. Kodim Mojokerto Sita Ratusan Karung Pupuk Tak Berizin, http://nasional.tempo.co,
  3. Anonim, 2015. 46 ton Pupuk Palsu Berhasil Diamankan, http://www.beritasatu.com.
  4. Anonim, 2015. Oknum TNI Otaki Peredaran Pupuk Palsu, http://nasional.harianterbit.com.
  5. Anonim, 2015. Lampung Banjir Pupuk Palsu, http://radarlampung.co.id.
  6. Anonim, 2015. KPPP Gerebek Pabrik Pupuk Ilegal, http://nasional.sindonews.com.
  7. Anonim, 2015. Ton Pupuk Palsu Diamankan Dit Reskrimsus Polda Jabar, http://eljabar.com.
  8. Anonim, 2016. Polisi Gerebek Produsen Pupuk Palsu di Kaltim, http://bangka.tribunnews.com.
  9. Anonim, 2016. Tentara Gagalkan Penyelundupan Pupuk Oplosan Asal Payakumbuh, Padang. http://nasional.tempo.com.
  10. Anonim, 2015. Polres Bengkalis Ungkap Kasus Pembuatan Pupuk Palsu, http://www.antaranews.com,
  11. Anonim, 2015. Peredaran Pupuk NPK Palsu di Pantura Mengejutkan, http://nasional.tempo.com.
  12. Anonim, 2015. Mabes Polri Gerebek Pabrik Pupuk Palsu di Gresik, http://nasional.tempo.com.
  13. Anonim, 2015. Usut 56,8 Ton Pupuk Palsu, http://www.harianrakyatbengkulu.comm.
  14. Anonim, 2015.  2015.Kodim bojonegoro Serahkan Kasus Pupuk Ke Polisi, http://www.antarajatim.com.
  15. Anonim, 2015. Bos Pupuk Palsu Dilaporkan Polisi Edarkan Pupuk Palsu, http://www.adakitanews.com.
  16. Anonim, 2015. Polisi Ungkap Pabrik Pupuk Palsu di Karawang, http://m.galamedianews.com.
  17. Anonim, 2015. Penjual 2.250 Ton Pupuk Palsu di Sumenep Digerebek, http://radarjatim.com.
  18. Anonim, 2015. Pelaku Produsen Pupuk Palsu Berhasil Diringkus, http://obsessionnews.com.
  19. Anonim, 2015. Dewan Bongkar Distributor Pupuk Subsidi Ikegal, http://daerah.sindonews.com.
  20. Anonim, 2015. Polisi Gerebek Gudang Penimbunan Pupuk Bersubsidi di Binjai Timur, http://daerah.sindonews.com.
  21. Anonim, 2015. Polres Gunung Kidul Bongkar Penyelewengan Pupuk Subsidi, http://daerah.sindonews.com.
  22. Anonim, 2015. Polres Tegal Gerebek Gudang Pupuk Oplosan, http://daerah.sindonews.com.
  23. Anonim, 2015. Pupuk Palsu Beredar di Bojonegoro, http://m.beritajatim.com.
  24. Anonim, 2012. Polres Tulungagung Bekuk Tiga Pengedar Pupuk Palsu, http://seputartulungagung.blogspot.co.id.
  25. Anonim, 2012. Setengah Tahun Kasus Pupuk Palsu Montong Masih di Polres, http://seputartuban.com.
  26. Anonim, 2015.  Pupuk Palsu Beredar di Boyolali, Petani Diminta Waspada, http://berita.suaramerdeka.com.
  27. Anonim, 2015. Kasus Pupuk Palsu Oplosan Bersubsidi, Polisi Tangkap 2 Orang, http://www.beritasatu.com.
  28. Anonim, 2016. Omset Pabrik Pupuk Oplosan di Yogya 1,6 Juta Per Hari, http://news.okezone.com.
  29. Anonim, 2015. TNI Kawal Kasus Pupuk Oplosan, http://berita.suaramerdeka.com.
  30. Anonim, 2016. Gudang Pupuk Oplosan Digerebek, http://pekanbarumx.co.
  31. Anonim, 2015. Polisi Tetapkan Pengusaha Pupuk Oplosan Jadi Tersangka, http://www.jawapos.com.
  32. Anonim, 2015. Deninteldam I/BB Amankan 7 ton Pupuk Oplosan di Batubara, http://hariansib.com.
  33. Anonim, 2015. Empat Pengoplos Pupuk Bersubsidi Ditangkap, http://regional.kompas.com.
  34. Anonim, 2015. Kodim 0712/Tegal Gerebek Gudang Pupuk Oplosan, http://www.antarajateng.com.
  35. Anonim, 2010. Polisi Gerebek Pengoplos Pupuk Bersubsidi, http://news.liputan6.com.
  36. Anonim, 2016. Polda Sumut Buru Pemilik Pupuk Oplosan Bersubsidi, http://kriminalitas.com.
  37. Billah, M. T. 2014.  Statistik Lahan Pertanian Tahun 2009-2013, Pusat Data & Sistem Informasi Pertanian, 2014, Jakarta
  38. Caliman, J. P. Daniel, C and Tailliez, B. 1994.Oil palm mineral nutrition plantation.Research and development.36-54.
  39. Chan. K. W. 1982. Potasium requirement  of oil palm in Malaysia. Fifty years of experiment oil result Malaysian society of science.  Kualalumpur.323-348.
  40. Diah Setyorini, Sulaeman, & A. Kasno, Perangkat Uji Pupuk, http://www.balittanah.org, 2007. Bogor
  41. Engelstad, O. P. 1992. Fertilizer Technology and Use. Ed 3. Soil Science society of America. Inc. Madison, 677p.
  42. Goh, K. J. and Lee, H. C. 2014.Fertilizer management and productivity of oil falm in Malaysia.www.aars.com.my/oil palm/fert management. proc.com.
  43. Keputusan Menteri Pertanian No.237/Kpts/OT.210/4/2003 Tentang Pedoman Pengawasan
  44. Pengadaan, Peredaran, dan Penggunaan Pupuk an-Organik.  Deptan. Jakarta
  45. Peraturan Pemerintah No.8 Tahun 2001 Tentang Pupuk Budidaya Tanaman. Jakarta
  46. Peraturan Menteri Pertanian No.43/Permentan/SR.140/8/2011 Tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pupuk an-Organik. Detan. Jakarta
  47. Pawirosemadi, M. 1980. Kriteria dan Kebutuhan Hara N, P dan K untuk Tanaman Tebu.Tidak dipublikasi. P3GI. Pasuruan. 1p.
  48. Pawirosemadi, M. 1996. Nomograf Analisis Tanah dan Daun : Piranti untuk Penetapan taharan Pupuk dan Evaluasi Pengelolaan Budidaya Tanaman tebu. MPG P3GI Pasuruan. XXVIII (3-4)1-8.
  49. Usman, B.  1997.  Pemupukan Tanaman Tebu Yang berhasil Guna. Paket Kupat, kegiatan untuk mempercepat alih teknologi. Modul 15.Pasuruan. 20p.
  50. Van Bao, 2014. Vietnam Deputy PM Urges Local Officials To Crack Down On Fake Fertilizers. www.thanhniennews.com.
  51. Warrior, S. M. and Piggott. C. J. 1973.  Rehabilitation of oil palms by correction manuring and fertilizer based on leaf analysis. Proc. Int. oil palm crop on advance in oil palm cultivation.In. Incorporated society of plants. Kuala Lumpur. 289-304.
  52. Whitney, D. A.., J. R. Cope and M. E. Welch.1985. Merumuskan Kebutuhan Hara Tanaman dan Tanah. In. Ongelotd, O. P. 1985. Fertilizer Technology and Use. Ed 3. Terjemahan.Geonadi, D. H. dan Radjagukguk, B. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.
  53. Yiwa, S. 2015. New study lifts lid on fake Inorganic fertilizers on Ugandan market. www.afrikreporters.com.

PUPUK PALSU : PENYEBARAN, IDENTIFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP USAHA PERKEBUNAN
Oleh : Mohamad Mulyadi dan M. Edi Premono (PT. Saraswanti Anugerah Makmur – Saraswanti Group)
Disampaikan pada acara Seminar Nasional Efisensi Pemupukan PT Riset Perkebunan Nusantara Indonesia 31 Maret-1 April 2016, Depasar-Bali

%d bloggers like this: