RINGKASAN

Lahan marginal di Indonesia sekitar 39,4 juta hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Prospek lahan marginal ini cukup besar untuk pengembangan sawit di Indonesia. Terdiri atas lahan gambut, pasang surut, bergelombang dan pasiran. Lahan marginal gambut dapat ditingkatkan efektivitas pemupukanya diantara dengan penggunaan amelioran yang dapat menaikkan tingkat keasaman tanah sampai dengan pH 5,  pemupukan dengan hara makro dan mikro, penggunaan pupuk yang lepas lambat dan pemupukan unsur mikro terutama yang mengandung Zeng Sulfat sangat diperlukan. Efektivitas pemupukan di lahan marginal pasang surut ditingkatkan dengan penambahan sulfat pada saat pembasahan akan menekan pencucian N, upaya menjaga tanah dalam kondisi kecukupan lengas, menekan reaktifitas pupuk terhadap tingkat kelarutannya dapat diatasi dengan penggunaan pupuk model granul. Upaya peningkatan kesuburan tanah pada lahan marginal bergelombang  antara dengan penggunaan pupuk slow release, konservasi tanah untuk mencegah terjadinya kerusakan lahan dan  penggunaan tanaman penutup tanah pada permukaan lahan yang kosong.Peningkatan efektivitas pupuk di lahan pasiran dilakukan dengan beberapa hal antara lain adalah penambahan bahan organik, penggunaan lepas lambat, pencucian Ca yang cukup intensif perlu diperhatikanFormulasi pupuk akan memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pemupukan yang mampu meningkatkan keuntungan budidaya sawit di lahan marginal melalui (1) rekayasa komposisi kandungan hara sesuai kebutuhan kebutuhan tanaman, (2) mekanisme pelepasan unsur hara sesuai kebutuhan dan karakteristik kimia tanah, (3) Nutrisi yang mampu mendorong peran metabolisme tanaman menjadi lebih baikdan (4) hara asal pupuk tidak mudah hilang karena tercucikan, volatilisasi dan terjerap, sehingga produktivitas lahan terjaga kelestariaanya dan menekan pengaruh negatif terhadap kerusakan lahan. Penggunakan pupuk dengan merk dagang “NPK PALMO” mampu meningkatkan produktivitas sawit di lahan marginal. Peningkatan yang terjadi setelah aplikasi pupuk Palmo berkisar antara 7 – 50% dibandingkan dengan penggunaan pupuk tunggal.

Kata kunci: efektivitas, lahan marginal, slow release

 

 PENDAHULUAN

Kelapa sawit (Elaeis quinensis jacq) termasuk dalam jenis tanaman palma yang menghasilkan minyak untuk dimanfaatkan secara komersial. Minyak sawit selain digunakan di industri makanan, juga digunakan sebagai bahan baku sabun, lilin, pembuatan lembaran-lembaran timah serta indutri kosmetik (Anonim, 2011). Kelapa sawit (oil palm) adalah salah satu tanaman produktif daerah tropis yang amat penting di Indonesia.

Di Indonesia lahan marginal terdiri atas lahan basah maupun lahan kering. Lahan basah berupa lahan gambut, lahan sulfat masam dan rawa pasang surut seluas 24 juta hektar, sementara lahan kering berupa tanah Ultisol 47,5 juta hektar dan oxisol 18 juta hektar (Suprapto, 2002). Penyebaran tanah marginal terluas terdapat di Kalimantan Timur (12,96 juta hektar), Kalimantan Tengah (7,74 juta hektar), dan Kalimantan Barat (7,31 juta hektar), dan terkecil di Kalimantan Selatan yaitu 2,13 juta hektar (Puslittanak 2000 dalam Suharta 2010). Menurut data dari Dinas Kimpraswil, terdapat sekitar 39,4 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas lahan rawa pasang surut di pulau Sumatera, berkisar 13,2 juta hektar, 6 juta hektar diantaranya berpotensi untuk pengembangan sektor pertanian/perkebunan (Subagyono, et.al 1994 dalam Subagyono & Susanti, 1998). Lahan marginal dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas untuk tujuan tertentu (Ezekiel, 2005). Potensi yang sangat rendah pada lahan marginal ini disebabkan oleh sifat tanah, fisiografi, atau kombinasi dari keduanya yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.

Prospek lahan marginal ini cukup besar untuk pengembangan sawit di Indonesia. Lahan-lahan tersebut kondisi kesuburannya rendah, sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk memperbaiki produktivitasnya. Inovasi yang dilakukan antara lain dengan meningkatkan kesuburan tanah. Peningkatan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan cara pemupukan. Efektivitas pupuk menjadi salah satu kunci penting dalam upaya peningkatan kesuburan tanah di lahan marginal. Pengelolaan pupuk yang benar dan sesuai dengan kondisi pada lahan marginal mampu secara signifikan meningkatkan produktivitas sawit di lahan marginal. Salah satu upaya tersebut adalah penggunaan pupuk dengan sifat slow release. 

 

LAHAN MARGINAL UNTUK SAWIT

Sawit mempunyai persyaratan khusus untuk dapat tumbuh dengan baik. Syarat-syarat tersebut meliputi kondisi iklim, fisiografi dan kondisi tanah. Kondisi iklim yang cocok untuk sawit menghendaki curah hujan terbagi merata sepanjang tahun tanpa musim kemarau yang menyolok (Ginting,1975). Curah hujan kurang dari 1.250 mm/tahun atau lebih dari 4.000 mm/tahun tidak sesuai untuk sawit. Temperatur rerata harian untuk pertumbuhan optimal sawit adalah 25 – 28 oC. (Djaenudin, 2000).

Secara fisiografi sawit menghendaki kondisi drainase yang baik sampai dengan sedang. Ketika drainase terhambat, maka pertumbuhan sawit akan tertanggu. Kondisi ini merupakan syarat terendah untuk sawit sehingga lahan dengan drainase terhambat dapat dikategorikan sebagai marginal. Lahan-lahan tersebut dapat berupa lahan gambut, pasang surut, maupun kombinasi keduanya. Selain drainase, lereng merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan sawit. Potensi kerusakan lahan ketika berbudidaya sawit pada lereng >30% sangat tinggi. Sehingga lahan dengan lereng >30% dapat dikategorikan sebagai lahan marginal.

Tanah sebagai media tumbuh akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan sawit. Tanah dengan kandungan hara yang rendah tidak dapat menopang kebutuhan makanan yang diperlukan untuk sawit. Batasan tersebut dapat dikriteriakan sebagai lahan marginal. Tanah dengan daya dukung kesuburan rendah secara umum banyak dijumpai pada lahan gambut maupun berpasir.

Analisis kesesuaian lahan merupakan salah satu metode dalam upaya penentuan lokasi yang terbaik untuk budidaya yang diinginkan termasuk sawit. Kelas kesesuaian dibagi menjadi 4, yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (sesuai), S3 (sesuai marginal) dan N (tidak sesuai). Penentuan tersebut didasarkan pada faktor penghambat paling berat yang dapat berpotensi terhadap dapat menggangu kegiatan budidaya yang akan dilakukan. Lahan dengan kriteria S1 dan S2 mampu memberikan kondisi lingkungan yang paling sesuai untuk pertumbuhan sawit. Batas bawah dalam kelas kesesuaian lahan tersebut (S3 dan N) dapat dikategorikan sebagai lahan marginal untuk sawit. Menurut  Djaenudin (2000), kelas kesuaian lahan untuk sawit disajikan dalam Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Kelas kesesuaian lahan untuk sawit menurut kriteria

 

Lahan Gambut

  1. Karakter tanah gambut. Lahan gambut adalah lahan yang terbentuk akibat akumulasi bahan organik yang mengalami proses degradasi sangat lambat. Karakteristik dari masing-masing gambut sangat beragam. Jenis tanaman, bahan induk, iklim, kondisi hidrologi, topografi dan masih banyak hal yang mempengaruhi dari karakter masing-masing jenis gambut. Di Indonesia, gambut banyak terbentuk di daerah-daerah tergenang atau dapat disebut sebagai rawa. Lahan rawa gambut di Indonesia sekitar 17,2 juta ha dan terluas setelah Kanada seluas 170 juta ha, Uni Soviet seluas 150 juta ha, dan Amerika Serikat seluas 40 juta ha (Euroconsult, 1984). Namun demikian, dari berbagai laporan, Indonesia sesungguhnya merupakan negara dengan kawasan gambut tropika terluas di dunia, yaitu antara 13,5-26,5 juta hektar (rata-rata 20 juta hektar). Jika luas gambut Indonesia adalah 20 juta hektar, maka sekitar 50% gambut tropika dunia yang luasnya sekitar 40 juta hektar berada di Indonesia. Lahan gambut tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua (BB Litbang SDLP, 2008). Namun karena variabilitas lahan ini sangat tinggi, baik dari segi ketebalan gambut, kematangan maupun kesuburannya, tidak semua lahan gambut layak untuk dijadikan areal budidaya. Dari 18,3 juta hektar lahan gambut di pulau-pulau utama Indonesia, hanya sekitar 6 juta hektar yang layak untuk kegiatan budidaya termasuk sawit. Potensi lahan gambut yang demikian besar mendorong perluasan pemanfaatan lahan untuk budidaya dibeberapa provinsi yang memiliki areal gambut luas, seperti Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Antara tahun 1982 sampai 2007 telah dikonversi seluas 1,83 juta hektar atau 57% dari luas total hutan gambut seluas 3,2 juta hektar di Provinsi Riau. Laju konversi lahan gambut cenderung meningkat dengan cepat, sedangkan untuk lahan non gambut peningkatannya relatif lebih lambat (WWF, 2008). Gambut adalah mempunyai material seperti spon dengan ciri koloid yang dapat menahan sejumlah besar air (Driessen and Rohimah, 1976). Jika mengalami kekeringan hingga air terjerap hilang, perubahan tidak balik terjadi pada struktur koloidal sehingga gambut kehilangan sebagian besar daya retensi air (Driessen and Rohimah, 1976). Gambut kering menjadi hidrofobik dan sulit untuk dibasahi kembali. Kehilangan air dan juga perubahan struktur koloid menyebabkan pengerutan tidak balik gambut. Gambut menjadi granuler dengan kondisi fisik yang tidak mendukung produktivitas pertanian dan kepekaan yang tinggi terhadap erosi. Gambut tropika dicirikan dengan kandungan hara yang rendah serta kemasaman yang tinggi. pH dari gambut ombrogen dari Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah rata-rata 3,56, pH dari gambut bawah yang dekat dengan bahan mineral bisa lebih tinggi dua unit (Neuzil et al., 1997; Rieley et al., 1997). Sesudah didrainase, pH gambut umumnya sangat rendah (pH 2-3). Potensi peningkatan pH tanah gambut yang tinggi biasanya pada tanah organik yang telah diolah dengan pemberian pupuk dan penambahan kapur (Subiksa et al., 1997; Mario, 2002).  pH tanah gambut berhubungan dengan kehadiran komponen organik, H dan Al dapat ditukar, besi sulfat dan komponen sulfur teroksidasi. Berbeda dengan tanah mineral, kehadiran asam-asam organik sangat menentukan kemasaman dan kehadiran Al dapat ditukar kurang penting.  Kisaran kemasaman bahan organik sangat lebar. Daya hantar listrik gambut tropika umumnya kurang dari 100 µS cm-1, kecuali gambut pantai yang bisa mencapai 470 µS cm-1. Sebagian besar gambut tropika dataran rendah dalam mengandung kurang dari 5% bahan anorganik, kandungan total senyawa kimia gambut ombrogen lebih rendah dibandingkan gambut topogen dan tanah mineral. Kekahatan hara banyak terjadi pada gambut dalam dibandingkan gambut dangkal (Anderson, 1983 cit. Rieley et al., 1996). Kapasitas pertukaran kation tanah mineral dan gambut tergantung pada jumlah muatan negatif pada tapak jerapan. Tapak jerapan dan pertukaran ion berasosiasi dengan koloid hidrofilik gambut yang dinamakan asam humat dan hemiselulosa (Volarovich and Churaev 1968 cit Rieley et al., 1996). Yang utama adalah gugus karboksil. Fraksi organik gambut tropika mengandung sejumlah besar hemiselulosa, sellulose, lignin, bahan humat, dan sejumlah kecil protein, waxes, tannins dan resin. Kapasitas pertukaran kation gambut sangat ditentukan oleh  fraksi lignin yang relatif stabil dan bahan humat, termasuk asam fulvat dan asam humat, yang membentuk kompleks yang stabil dengan ion logam (Rieley et al., 1996). Gambut pada kondisi perawan umumnya mempunyai kandungan P sangat rendah. Sebagian besar berada dalam bentuk organik dan harus mengalami mineralisasi dulu sebelum tersedia bagi tanaman. Kandungan P total gambut oligotropik dari Sarawak berkisar antara 400-1.000 ppm (0.004-0.01 persen). Gambut yang mirip dari Malaysia sebagaimana dilaporkan Kanapathy (1975) mempunyai kisaran 0.002-0.006 persen sedangkan gambut Indonesia rata-rata kandungan P totalnya sekitar 0.006 persen.
  2. Permasalahan lahan Gambut. Tanah gambut bereaksi masam, dengan demikian diperlukan upaya ameliorasi untuk meningkatkan pH sehingga memperbaiki media perakaran tanaman. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah (Subiksa et al, 1997; Mario, 2002; Salampak, 1999). Tidak seperti tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai pH 5 saja karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH sampai tidak lebih dari 5 dapat memperlambat laju dekomposisi gambut. Pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dikurangi dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai (Salampak, 1999; Sabiham et al, 1997). Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman (Mario, 2002; Salampak, 1999; Suastika, 2004; Subiksa et al., 1997). Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Sri Nuryani (2007) bahwa pengembangan pertanian di lahan gambut menghadapi kendala antara lain tingginya asam-asam organik. Pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun dapat dikurangi dengan teknologi pengelolaan air dan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn. Kahat unsur hara untuk memberikan hasil yang optimal pada sistem usahatani dapat dilakukan dengan tindakan ameliorasi dan pemupukan. Namun yang perlu diperhatikan bahwa bahwa ameliorasi untuk memperbaiki kesuburan tanah gambut juga dapat memacu emisi, karena ameliorasi akan menurunkan rasio C/N dan akan memacu dekomposisi gambut. Dengan demikian pemanfaatan lahan gambut harus berdasarkan pada pertimbangan yang rasional antara keuntungan ekonomi yang didapat dengan kerugian lingkungan yang akan diderita (Widyati, 2011). Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KPK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti lebih baik dibandingkan pupuk NPK pada umumnya, karena akan lebih efisien dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995). Peningkatan kandungan P tanaman semakin besar bila pemberian fosfat alam berkadar Fe tinggi diikuti dengan pemberian amelioran Fe3+. Semakin tinggi kandungan fosfat alam dan kadar Fe dalam air tanah semakin besar kontribusinya dalam menekan kehilangan karbon, rata-rata kehilangan karbon dari tanah gambut pertahun dapat ditekan sebesar: 64% (1,7 Mg C ha-1.tahun-1) pada kondisi tergenang 5 cm, diikuti dengan kondisi dua kali kapasitas lapang sebesar 58% (1,3 Mg C ha-1.tahun-1) dan kondisi kapasitas lapang sebesar 41% (1,0 Mg C ha-1tahun-1), bila pemberian fosfat alam berkadar Fe tinggi diikuti dengan pemberian amelioran Fe3+. Untuk menekan kehilangan karbon dan mempertahankan stabilitas tanah gambut disarankan menggunakan bahan berkadar Fe tinggi sebagai amelioran dan fosfat alam berkadar Fe tinggi pada kondisi tergenang (Nelvia, 2009). Tanah gambut juga kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan organik (Rachim, 1995). Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi, magnesium sulfat dan seng sulfat masing-masing 15 kg.ha-1.tahun-1, mangan sulfat 7 kilogram per hektar per tahun, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kilogram per hektar per tahun.
  3. Solusi peningkatan efisiensi pemupukan di lahan gambut. Upaya dalam peningkatan efektivitas pemupukan dil ahan gambut adalah dengan penggunaan amelioran yang bertujuan menaikkan tingkat keasaman tanah sampai dengan pH 5. Kisaran ini sudah cukup aman karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Unsur hara Al banyak terdapat di komplek pertukaran pada tanah mineral. Bahan amelioran yang disarankan sebaiknya mempunyai kadar Fe dan P alam yang tinggi terutama pada kondisi tergenang. Kandungan hara gambut yang sangat rendah perlu ditingkatkan dengan pemupukan N, P, K, Ca dan Mg. Daya pegang yang rendah terhadap kation pada tanah gambut perlu diantisipasi dengan penggunaan pupuk yang lepas lambat. Unsur mikro tidak dapat tersedia untuk tanaman sehingga pemupukan unsur mikro terutama yang mengandung Zeng Sulfat sangat diperlukan. Penambahan unsur mikro dalam pemupukan dapat membantu meningkatkan ketersediaan hara untuk tanaman.

 

Lahan Pasang Surut

  1. Karakter lahan pasang surut. Lahan pasang surut adalah lahan yang mengalami proses penggenangan dan pengeringan dengan periode tertentu. Sumber pengenangan dapat berasal dari air hujan maupun limpasan sungai dan pantai. Hal ini menyebabkan karakter dari lahan pasang surut cukup beragam tergantung dengan kondisi lingkungan. Proses pembasahan dan pengeringan ini membawa dampak pada karakter tanah yang terbentuk. Karakter tanah yang jenuh air atau tergenang dangkal, sepanjang tahun atau dalam waktu yang lama, beberapa bulan, dalam setahun membentuk tanah yang dominan dengan horison tanah tereduksi berwarna kelabu-kebiruan, disebut proses gleisasi. Klasifikasi taksonomi tanah, tanah rawa termasuk tanah basah, atau “wetsoils”, yang dicirikan oleh kondisi aquik, yakni saat ini mengalami penjenuhan air dan reduksi secara terus-menerus atau periodik. Topografi lahan rawa pasang biasanya berupa dataran luas dengan bentuk hamparan, dengan ketinggian tempat dari permukaan laut relatif kecil, yaitu sekitar 0-0,5 m diatas permukaan laut di pinggir laut sampai sekitar 5 meter di atas permukaan laut di wilayah lebih kepedalaman. Pirit adalah zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Zat ini dibentuk pada waktu lahan digenangi oleh air laut yang masuk pada musim kemarau. Pirit adalah mineral berkristal oktahedral, termasuk sistem kubus, dari senyawa besi-sulfida (FeS2) yang terbentuk di dalam endapan marin kaya bahan organik, dalam lingkungan airlaut/payau yang mengandung senyawa sulfat (SO4) larut. Dengan menggunakan teknik SEM (Scanning Electron Microscope) diketahui bahwa partikel-partikel pirit berada dalam bentuk kristal, yang individu-individu kristal tunggalnya sangat halus, terbanyak berukuran <1 mikron (1mikron=0,001 mm), dan sebagian kecil 2-9 mikron. Bentuk kristal tunggal dari kubus bervariasi, dan bentuk (kristal) oktahedral adalah yang paling dominan, diikuti bentuk piritohedral, yang semuanya termasuk sistem (kristalografi) kubus, atau isometrik. Pirit mengandung 46,55% Fe (berdasarkan berat), dan 53,45% S. Pada lahan dengan proses pembasahan dan pengeringan secara periodik, karakter tanah yang terbentuk dicirikan dengan adanya akumulasi lempung pada batas dimana muka air tanah konstan. Kondisi ini berdampak pada  kontribusi berbagai proses pelepasan hara atau transformasi untuk mengubah ketersediaan unsur hara. Pengeringan tanah menstimulasi mineralisasi N (3 kali lebih tinggi) dan mengurangi denitrifikasi (5 kali lebih rendah) dibandingkan dengan tanah basah secara terus menerus. Pada kondisi basah, denitrifikasi meningkat menjadi 20 mg N m-2 d-1, yang jauh lebih tinggi daripada denitrifikasi dibandingkan dengan kondisi pada umumnya. Pengeringan tanah juga merangsang pelepasan N dan K tersedia, namun pelepasan P tidak terpengaruh. Sebaliknya, P yang dapat diekstraksi meningkat pada pembasahan tanah Venterink dkk (2002).
  2. Permasalahan lahan pasang surut. Ketersediaan Fosfor untuk tanaman pada lahan basah adalah sebagian besar dikendalikan oleh kesetimbangan kimia di dalam tanah (Richardson dan Marshall, 1986). Terutama dikisaran pH 4-6, pembasahan tanah menurunkan ketersediaan Fosfor membentuk Fe-P (Patrickdan Khalid, 1974; Richardson, 1985). Penelitian lain, menunjukkan bahwa imobilisasi mikroba dapat mengontrol ketersediaan P untuk tanaman (Chapin et al., 1978;Walbridge, 1991). Pelepasan Kalium di tanah terutama dikendalikan oleh adsorpsi fisik pada partikel tanah liat (Mengel, 1982; Scheffer dan Schachtschabel, 1989). Karena adsorpsi K meningkat dengan drainase tanah (Scheffer dan Schachtschabel, 1989), ketersediaan K untuk tanaman cenderung menurun setelah drainase.            Membasahi kembali daerah yang sebelumnya dikeringkan telah dipraktikkan dalam pemulihan lahan basah (Pfadenhauer dan Grootjans, 1999). Tujuan pembasahan ulang adalah untuk mengurangi aerasi tanah dan menurunkan mineralisasi N dan karenanya menurunkan ketersediaan N untuk tanaman lahan basah. Penambahan sulfat pada percobaan Venterink dkk (2002) cenderung menurunkan denitrifikasi N sehingga dapat mencegah terjadinya kehilangan akibat pencucian. Aplikasi ini dilakukan bersamaan dengan pembasahan pada lahan yang semula kering.
  3. Solusi Lahan Pasang Surut. Penambahan sulfat pada saat pembasahan dapat menekan pencucian terhadap pupuk N. Unsur hara S sebaiknya ditambahkan secara bersamaan dengan N ketika melakukan pemupukan. Upaya terhadap rekayasa hidrologi untuk tetap menjaga tanah dalam kondisi kecukupan lengas akan sangat menekan adanya pencucian serta kehilangan hara akibat dari pengaruh pembasahan dan pengeringan yang terjadi berulang-ulang. Upaya dalam menekan reaktifitas pupuk terhadap tingkat kelarutannya dapat diatasi dengan penggunaan pupuk model granul. Pupuk ini secara fisik mempunyai luas permukaan yang lebih rendah dibandingkan skala berat. Hal ini dapat membantu dalam upaya pengingkatan efektivitas pupuk.

 

Lahan Bergelombang (Undulating)

  1. Karakter lahan bergelombang. Lahan bergelombang mempunyai potensi yang tinggi terjadi kerusakan lahan, kerusakan ini dapat diakibatkan faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh dominan adalah tanah. Tanah dengan tekstur pasiran mempunyai derajat agregasi zarah-zarah debu dan lempung rendah serta kemantapan agregatnya lemah, hal ini menambah kerentanan tanah terhadap erosi di lahan berlereng. Pada saat terjadi hujan, runoff akan lebih dominan dibandingkan infiltrasi. Hal ini menyebabkan erosi permukaan tanah yang relatif subur karena menandung banyak humus.
  2. Permasalahan Lahan Bergelombang. Tingkat erosi akibat kejadian pada lahan bergelombang lebih tinggi dibandingkan dengan pada lahan yang datar. Pada kejadian hujan dengan intensitas 2.500 mm per tahun penggunaan lahan sawit umur 4 tahun pada jenis tanah Inceptisol, terdapat endapan erosi setara dengan 22 – 48 ton dalam satu hektar luas lahan (Abimanyu, 1999). Apabila dalam setiap gram tanah terdapat kandungan N senilai 0.08% maka dalam satu tahun kurang lebih terdapat 1,76 – 3,84 ton hilang akibat kejadian erosi. Penurunan tingkat kesuburan tanah akan sejalan dengan terjadinya kejadian erosi. Leaching akan membawa unsur hara mengikuti pergerakan air menuju daerah delta. Seperti dilansir dalam Wargersoun (2001) yang melakukan penelitian di daerah Miri Serawak dengan membandingkan produktivitas sawit didaerah undulating dan delta (pada satu sistem kawasan tangkapan hujan) selama 3 tahun menyimpulkan bahwa produktivitas sawit delta lebih tinggi dengan rerata 17 – 28% dibandingkan daerah undulating. Pada permukaan tanah yang dangkal, kejadian erosi akan membawa dampak yang lebih parah lagi. Erosi yang terjadi secara intensif akan menyebabkan tanah hilang dan menyisakan batuan induk yang tidak dapat lagi digunakan sebagai areal budidaya.
  3. Solusi lahan bergelombang. Penggunaan pupuk lepas terkendali akan membantu proses pelepasan hara secara simultan, hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat leacing yang akan terjadi pada saat kejadian hujan. Dengan penyediaan unsur hara secara lepas lambat maka kesempatan untuk digunakan oleh tanaman menjadi semakin tinggi. Konservasi terhadap tanah sangat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan lahan. Pemilihan lahan untuk budidaya yang akan dilakukan sebaiknya juga memperhatikan kaidah lingkungan yang bertujuan terhadap budidaya secara lestari. Akan menjadi sangat fatal apabila penangan terhadap kerusakan lahan terlambat dilakukan. Butuh biaya yang sangat tinggi untuk mengembalikan lahan yang telah rusak, dan tentunya tidak sesuai dengan aspek ekonomi dari kegiatan budidaya yang akan dilakukan. Tanaman penutup tanah sangat diperlukan pada saat pembukaan lahan sampai dengan tajuk tanaman mampu menutupi sebagian besar permukaan lahan. Energi kinetik dari butiran hujan akan terpecah pada saat pertama kali menyentuh tanaman penutup sehingga mengurangi tingkat erosivitasnya.

 

Lahan dengan Tekstur Pasiran (Psament)

  1. Karakter lahan pasiran. Karakter lahan pasiran antara lain adalah struktur kersai (belum berstruktur), konsistensi sangat gembur, daya ikat air sangat rendah, permeabilitas sangat cepat, infiltrasi sangat cepat, kemantapan agregat sangat rendah dan suhu tanah relatif tinggi pada permukaan terbuka. Secara kimia tanah pasiran mempunyai kesuburan tanah yang rendah, kapasitas pertukaran kation rendah dan salinitas relatif tinggi.
  2. Permasalahan di lahan pasiran. Permasalahan yang sering dijumpai di tanah pasiran diantaranya adalah kemampuan menahan air yang rendah serta kesuburan aktual tanah yang rendah. Kandungan pori makro yang tinggi pada tanah pasiran menyebabkan air tidak dapat ditahan dalam waktu lama dan langsung turun secara gravitasi. Kesuburan aktual rendah di tanah pasiran salah satunya disebabkan kerana kemampuan tanah mengikat unsur hara sangat rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mauteveira dkk (2002) di Brasil menyatakan jumlah pencucian yang terjadi pada tanah pasiran dengan curah hujan 2015 mm pertahun cukup tinggi dengan N sebesar 45 kg per hektar, K sebesar 13 kilogram per hektar, Ca sebesar 320 kg per hektar dan Mg sebesar 80 kg perhektar. Hal serupa yang dilakukan oleh Shepherd (2008) melakukan simulasi dengan menggunakan lysimeter pada tanah pasiran dan lempung menunjukkan hasil bahwa pencucian yang terjadi pada tanah pasiran 30 – 68% lebih tinggi.
  3. Solusi di Lahan Pasiran. Penambahan bahan organik pada lahan pasiran sangat diperlukan. Asam-asam organik tambahan seperti asam humat fulvat juga dapat diberikan pada lahan ini guna mengikatkan nilai harkat dari kesuburan tanah. Selain itu, asam organik tambahan dapat berfungsi dalam mengontrol kelarutan Al dan meningkatkan ketersediaan P apabila diberikan secara bersamaan (Suharta, 2007). Ketersediaan unsur hara dalam tanah pada saat pemupukan dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk lepas lambat. Leaching yang terjadi intensif pada saat hujan akan menyebabkan ketersediaan unsur hara rendah dalam area perakaran tanaman. Pemupukan juga sebaiknya dilakukan dengan menambahkan unsur hara mikro, hal ini diperlukan karena sebagian besar unsur hara mikro dalam tanah mengalami pencucian atau dalam bentuk tidak tersedia untuk tanaman karena masih terikat pada komplek tanah. Pencucian Ca yang cukup intensif pada tanah pasiran memerlukan perhatian yang khusus. Unsur hara Ca sebaiknya diberikan dalam porsi yang lebih banyak pada saat pemupukan pada tanah pasiran dibandingkan dengan tanah lempung.

 

PENGELOLAAN LAHAN MARGINAL BERBASIS REKAYASA PUPUK DAN NUTRISI KEBUTUHAN SAWIT

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa salah satu faktor pembatas utama dari aspek kimia tanah di lahan marginal adalah kandungan nutrisi tanah baik unsur makro maupun mikro yang relatif rendah.  Selain kandungan nutrisi asal pelapukan tanah yang relatif rendah karena sumberdayanya yang tidak tersedia, lahan marginal umumnya memiliki kemampuan mengikat nutrisi tanah rendah, potensial redoks yang tidak menguntungkan untuk ketersedian hara dan tingkat kehilangan nutrisi dipermukaan tanah akibat pergerakan air yang berlebihan relatif tinggi. Kehilangan nutrisi pada lahan marginal tipe lahan undulating dikarenakan aliran permukaan run off.  Pada lahan gambut dan lahan pasang surut kehilangan nutrisi karena pergerakan air naik turun secara vertikal dalam tubuh tanah.  Kemudian pada lahan marginal tipe tanah pasiran kehilangan nutrisi karena pencucian air perkolasi.

Tindakan pemupukan pada lahan marginal dengan potensi kehilangan nutrisi akibat dinamika pergerakan air sering menjadi tidak efektif.  Apabila pengelolaan nutrisi dilakukan secara tidak hati-hati, maka pemberian pupuk di tanah marginal dengan faktor pembatas pergerakan air sangat intensif lebih banyak pupuk yang hilang dibanding yang diserap tanam.  Untuk menekan terjadinya inefisiensi pupuk karena pergerakan air yang berlebihan dibutuhkan tindakan pengelolaan pemupukan secara bijaksana.  Konsep peningkatan efisiensi pupuk di lahan marginal demikian tetap mengacu kepada pilar kunci kaidah pemupukan, melalui tepat;  jenis, dosis, cara, waktu dan frekuensi.  Di era pertanian modern, teknologi yang dapat menyederhanakan konsep kunci kaidah pemupukan tersebut sesungguhnya dapat dirangkum kedalam rekayasa formulasi pupuk.

Rekayasa formulasi pupuk dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemupukan. Melalui penerapan teknologi ini, tindakan  pemupukan menjadikan nutrisi asal pupuk lebih banyak diserap sesuai kebutuhan pertumbuhan fisiologis tanaman dan menekan sekecil mungkin nutrisi pupuk hilang dari tubuh tanah.  Formulasi pupuk dapat dilakukan berdasarkan sifat kimia, fisik dan penggabungan diantara kedua sifat tersebut menjadi suatu kesatuaan yang terintegrasi.  Dalam prakteknya, formulasi kimia pupuk dilakukan terhadap rekayasa (a). formulasi komposisi, (b) formulasi bentuk fisik dan  formulasi sifat kelarutan pupuk.

 

A. Formulasi Komposisi

Teknologi formulasi komposisi diarahkan terhadap jenis hara, kandungan hara, dan penambahan unsur atau senyawa aditif yang berpengaruh terhadap perbaikan kualitas tanaman, memperbaiki harkat kesuburan tanah dan mendorong percepatan ketersediaan hara.  Jenis hara yang dibutuhkan utamanya diarahkan terhadap unsur hara utama, terdiri dari unsur N, P, K, Ca, Mg dan S.  Kandungan masing-masing unsur hara disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.  Kebutuhan formulasi komposisi pupuk ditetapkan berdasarkan hasil penelusuran secara terukur dan dapat dipertanggung jawabkan melalui hasil analisis tanah maupun daun.  Penambahan unsur hara yang selama ini kurang diperhatikan, namun sesungguhnya memiliki fungsi yang dapat berkontribusi nyata terhadap perbaikan kualitas produksi tanaman juga menjadi bagian untuk memperkuat kualitas formulasi pupuk, misalnya penambahan hara mikro secara lengkap terdiri dari unsur Cu, Zn, Fe, B dan Si.   Untuk meningkatkan kualitas pupuk, rekayasa komposisi acapkali dilakukan dengan memperkaya komposisi melalui penambahan bahan yang mampu meningkatkan harkat kesuburan tanah, seperti penambahan humic subtance.

Penerapan teknologi formulasi komposisi sangat efektif untuk mengatasi permasalahan kondisi lahan marginal yang memiliki keterbatasan sumberdaya bahan mineral asal tanah yang sangat minimal, seperti halnya lahan marginal tanah gambut dan tanah pasiran.   Konsep formulasi komposisi berdasarkan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah akan menekan pengaruh hara yang berlebihan terkandung dalam pupuk yang mudah hilang karena terbawa run off atau tercucikan.  Dengan demikian, sangat logis bahwa formulasi komposis pupuk akan memaksimalkan efektifitas penggunaan pupuk.

 

B. Formulasi Bentuk Pupuk

Formulasi sifat fisik pupuk padatan diarahkan pada bentuk, ukuran partikel dan kemasifan permukaan butiran.   Formulasi sifat fisik pupuk pada bentuk pupuk diarahkan pada ukuran partikel pupuk yang lebih besar.  Ukuran luas butir yang lebih besar memiliki peluang integrasi keseluruhan unsur dalam partikel butiran secara lengkap yang lebih terjamin dan memiliki pengaruh terhadap pelarutan pupuk yang secara relatif lebih lambat dibanding dengan pupuk yang memiliki diameter partikel lebih kecil.  Sifat kemasipan pupuk berkaitan dengan kerapatan pori mikro di permukaan pupuk, direkayasa melalui proses compressing menghasilkan berat jenis butiran yang lebih besar (1,33-2,50 g/cm3) dan dapat membantu proses hancuran hidrolisis pelarutan bahan menjadi lebih lambat.  Sizing dan kemasifan pupuk berfungsi sebagai salah satu pengendali sifat pupuk slow release.

Formulasi pupuk dalam bentuk ukuran butiran yang lebih besar dan kemasifan pupuk yang berperan dalam menjaga pelepasan hara secara terkendali, nampaknya cukup menonjol diaplikasikan pada tanah-tanah dengan tingkat pencucian hara cukup tinggi, yaitu pada tanah bertekstur kasar.  Pupuk dengan sizing yang lebih besar mampu mengendalikan ketersediaan hara lebih efektif dengan mengurangi kehilangan hara asal pupuk yang dapat disebabkan oleh pencucian (tanah pasiran), run off (lahan undulating), dinamika air naik turun secara vertikal (tanah gambut) dan lahan tergenang serta limpasan air pada periode waktu tertentu (lahan pasang surut).

 

C. Formulasi Kecepatan Kelarutan Pupuk

Faktor pembatas nutrisi di lahan marginal perkebunan sawit sering dikaitkan dengan kondisi air yang berlebihan di lapisan permukaan tanah.   Kehilangan nutrisi di permukaan lapisan tanah sering berhubungan dengan kelarutan nutrisi yang terbawa oleh pergerakan air secara berlebihan.  Dengan mengatur kecepatan pelarutan pupuk, maka boleh jadi kehilangan nutrisi di permukaan tanah dapat ditekan sekecil mungkin dengan harapan akan memberikan peluang pupuk lebih lama tersimpan di dalam tanah dan memberi peluang untuk meningkatkan efisiensi serapan tanaman.

Kecepatan pelarutan pupuk sering menjadi sasaran utama dalam rekayasa formulasi sifat fisik pupuk.  Sifat ini menjadi penting berkaitan dengan kemampuan pupuk dalam menyediaakan bagi tanaman.  Rekayasa formulasi kecepatan pelarutan pupuk dapat dilakukan melalui mekanisme kimia, fisika dan penggabungan diantara kedua mekanisme tersebut.   Formulasi pupuk kecepatan pelarutan pupuk dalam menyediakan hara dibedakan terhadap kecepatan pelarutan pupuk yang cepat terlarut (fast release) dan pupuk dengan kelarutan secara lambat terkendali (slow release).

Pupuk menyediakan hara bagi tanaman di dalam tanah diawali dengan terjadinya proses persentuhan materi pupuk dengan air asal kelembaban tanah.  Reaksi kimia hidrolisis di permukaan materi pupuk akan menyebabkan terjadinya peristiwa ionisasi pada masing-masing unsur yang terkandung dalam bahan.   Peristiwa reaksi kimia ini menyebabkan terjadinya pelarutan bahan pupuk untuk berubah menjadi hara dalam bentuk fraksi ion-ionnya.  Fenomena ini dapat dijumpai di lahan marginal yang memiliki intensitas ketersedian air dipermukaan tanah secara berlebihan.  Pupuk yang diaplikasikan pada tanah marginal dengan ketersediaan air secara berlebihan sering menjadi tidak efektif, karena lebih banyak pupuk yang hilang dipermukaan tanah dibanding dengan nutrisi pupuk yang terserap tanaman.

Kehilangan nutrisi pupuk  sering terjadi utamanya dalam penggunaan pupuk ditanah marginal dengan menggunakan pupuk yang fast release.  Jenis pupuk ini yang diberikan pada kondisi tanah sering terjadi kelebihan air secara agresif sesaat akan cepat terjadi pelarutan nutrisi dan seketika akan terjadi pergerakan nutrisi keluar dari tubuh tanah bersama dengan pergerakan air secara berlebihan, baik yang melalui pergerakan run off, tercuci bersama air perkolasi dan pergerakan air turun naik secara vertikal  serta limpasan air.  Pada kondisi lingkungan yang sering terjadi pergerakan air secara intensif, maka pemilihan pupuk dengan sifat kelarutan nutrisi dalam pupuk lambat tersedia akan lebih bijaksana. Pupuk slow release dengan sifat kelarutan yang terukur akan menjadikan nutrisi dalam pupuk tidak mudah terbawa oleh pergerakan air yang berlebihan, sehingga nutrisi relatif lebih lama tersimpan dalam tanah dan memberikan peluang lebih banyak diserap oleh tanaman.

Secara umum, formulasi pupuk akan memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pemupukan yang mampu meningkatkan keuntungan budidaya sawit di lahan marginal sambil tetap menjaga kelestarian produktivitas lahan, melalui ; (1) Rekayasa komposisi kandungan hara sesuai kebutuhan kebutuhan tanaman (by order) yang dapat ditetapkan berdasarkan pendekatan ketersediaan hara tanah dan jaringan tanaman, sehingga efektif dalam menekan pemborosan kehilangan hara asal pupuk di lahan pertaniaan, (2) memiliki mekanisme pelepasan unsur hara sesuai kebutuhan dan karakteristik kimia tanah. Kelarutan pupuk lebih terukur untuk menyediakan hara cepat tersedia maupun lambat tersedia sesuai dengan fase pertumbuhan.  Peristiwa penyediaan hara yang demikian, akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara optimal atau target produktivitas yang diharapkan berdasarkan peningkatan efisiensi serapan maupun efisiensi produksi, (3) dilengkapi nutrisi yang mampu mendorong peran metabolisme sink tanaman menjadi lebih baik, sehingga akan mampu meningkatkan kualitas produksi tanaman, dan (4) menjadikan hara asal pupuk tidak mudah hilang karena tercucikan, volatilisasi dan terjerap, sehingga produktivitas lahan terjaga kelestariaanya dan menekan pengaruh negatif terhadap kerusakan lahan.

 

HASIL-HASIL PENGGUNAAN PUPUK “NPK PALMO” DITANAH MARGINAL UNTUK SAWIT

Hasil dari pengamatan penggunaan pupuk NPK Palmo dibandingkaan dengan kontrol pada beberapa kondisi lahan marginal disampaikan pada Tabel 2. Perlakuan kontrol mengaplikasikan pemupukan tunggal, sedangkan pupuk NPK Palmo merupakan pupuk slow realise. Peningkatan hasil penggunaan pupuk NPK Palmo pada berkisar antara 7 – 50 % dibandingkan dengan kontrol.

Tabel 2. Produktivitas sawit dengan menggunakan pupuk tunggal (kontrol) dan NPK palmo pada beberapa lahan marginal di Indonesia.

 

Peningkatan produktivitas tersebut tidak lepas dari karakter pupuk NPK Palmo yang bersifat slow release dengan formulasi komposisi hara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pada lahan yang spesifik. Sifat slow release akan membantu proses pelepasan unsur hara lebih terkendali sehingga tidak mudah leaching dari area perkaran tanaman. Formulasi komposisi yang spesifik sangat berguna untuk menyediakan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman pada lokasi tertentu. Kedua hal tersebut sangat berperan dalam peningkatan efektivitas pemupukan termasuk untuk budidaya tanaman sawit.

 

KESIMPULAN

Tanah marginal untuk sawit berdasarkan faktor pembatasnya secara umum terbagi atas lahan pasang surut, lahan gambut, lahan bertekstur pasiran dan lahan undulating (bergelombang). Faktor penghambat tersebut mengerucut pada rendahnya kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman khususnya sawit. Unsur hara makro dan mikro sebagian besar hilang atau dalam bentuk tidak tersedia untuk tanaman sawit. Faktor penyebab rendahnya ketersediaan hara tersebut pada masing-masing lahan berbeda, akan tetapi faktor utama yang berpengaruh adalah adanya aktivitas fisik dan kimia.

Teknologi formulasi pupuk yang telah diterapkan oleh PT Saraswanti Anugerah Makmur adalah formulasi komposisi nutrisi, formulasi fisik dan formulasi kimia. Teknologi formulasi komposisi nutrisi memungkin pengaturan jumlah hara yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan imbangan hara untuk tanaman. Perimbangan kebutuhan hara merupakan salah satu kunci dalam peningkatan efisiensi pupuk yang diberikan.  Teknologi formulasi fisik dapat membantu dalam pengontrol luas permukaan singgung sehingga akan sangat berpengaruh terhadap reaktifitas pupuk yang akan diberikan. Teknologi ini membantu dalam upaya pelepasan secara lebih terkendali sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Teknologi formulasi kimia dengan menggunakan slow release agent berperan dalam pelepasan unsur hara yang terkandung. Efisiensi pemupukan akan meningkat dengan adanya pelepasan unsur hara yang lebih terkendali. Ketiga faktor terknologi yang diterapkan di pupuk produksi PT Saraswanti Anugerah Makmur terbukti dapat membantu dalam peningkatan efisiensi pemupukan untuk lahan tanaman sawit yang dibudidayakan di lahan-lahan marginal.

Pemilihan pupuk ke arah slow release dapat meningkatkan efektivitas pemupukan lahan marginal. Prinsip utama dengan menekan kehilangan nutrisi di lapisan olah tanah. Hal tersebut berdapak pada peningkatan efisiensi dari kegiatan pemupukan yang dilakukan. Penggunakan pupuk NPK berteknologi slow realease dengan merk dagang “NPK PALMO” terbukti mampu meningkatkan produktivitas sawit di lahan marginal. Peningkatan yang terjadi setelah aplikasi pupuk Palmo berkisar antara 7 – 50% dibandingkan dengan penggunaan pupuk tunggal.

 

SARAN

Faktor pembatas fisik utama lahan marginal di Indonesia yang banyak digunakan untuk budidaya sawit adalah tinggi muka air dan  genangan air tanah. Faktor pembatas tersebut harus diatasi guna meningkatkan efisiensi serapan pupuk dilahan marginal. Pengelolaan manajemen pupuk secara maksimal akan tidak berarti apabila faktor pembatas fisik utama tersebut tidak diatasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abimanyu.  1999. Kajian Erosivitas Hujan Bulanan Dan Hubungannya Dengan Aliran Permukaan Serta Erosi dibeberapa Tanah Ultisol DAS Brantas. http://repository.unej.ac.id/handle/123456789. Tanggal akses 12 Juli 2017.
  2. Anonim. 2011. Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik  Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Daerah Aliran Sungai. http://www.dephut.go.id/ INFORMASI/RLPS/14_167_04.pdf. Tanggal akses 12 Juli 2017.
  3. Djaenudin, D., H. Marwan, H. Subagyo, A. Mulyani, dan N. Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Versi. 3. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
  4. Driessen and Rohimah, 1976.Organic Soils. In Soils for agricultural expansion in Indonesia. ATA 106 Bulletin 1. Soil Research Institute. Bogor.
  5. Euroconsult. 1984. Nationwide study of coastal and near coastal swampland in Sumatra, Kalimantan, and Irian Jaya. Vol. I and II. Arnhem.
  6. Ezekiel. 2005. Lime effects on soil acidity, crop yield, and aluminium chemistry in direct-seeded cropping system. Soil Sci. Soc. Am. J. 72(3): 634−640.
  7. Suprapto, A. 2002. Land and water resources development in Indonesia. In FAO : Investment in Land and Water. Proceedings of the Regional Consultation.
  8. Mario, M.D., 2002. Peningkatan produktivitas dan stabilitas tanah gambut dengan pemberian tanah mineral yang diperkaya oleh bahan berkadar besi tinggi. Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
  9. Mohr, E.C.J., F.A. van Baren, and J. van Schuylenborgh. 1972. Tropical Soils. A comprehensive study of their genesis. Mouton–Ichtiar Baru-Van Hoeve, The Hague-Paris-Jakarta. p. 481.
  10. Nauteveira M, Trivelin PCO, Boaretto AE, Mauraoka T, Mortatti J. 2002. Leaching of Nitrogen, Photasium, Calsium and Magnesium in Sandy Soil. Parto Pinto. Brasil
  11. Shepherd MA dan Bennet G. 2008. Nutrient Leaching Losses From a Sandy Soil. Communication in soil science and plant analysis. Volume 29. UK
  12. Schachtschabel. 1989. Dictionaire de Geologie. Guides Geologiques Regionaux. Collection dirigee par Ch. Pomerol. 2-ed. Masson, Paris, New York, Barcelone, Milan, Mexico, Sao Paulo
  13. Nelvia, 2009. Kandungan fosfor tanaman padi dan emisi karbon tanah gambut yang diaplikasi dengan amelioran Fe3+ dan fosfat alam pada beberapa tingkat pemberian air. J. Tanah Trop. 14(3):195-204.
  14. Pfadenhauer dan Grootjans. 1999. Wetland restoration in Central Europe: aims and methods. Applied Vegetation Science.Blackwell Publishing Ltd.
  15. Suharta, N. 2007. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Jurnal Tanah dan Iklim 25: 11−26.
  16. Rachim, A. 1995. Penggunaan kation-kation polivalen dalam kaitannya dengan ketersediaan fosfat untuk meningkatkan produksi jagung pada tanah gambut. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
  17. Rieley, J.O., A.A. Ahmad-Shah & M.A. Brady., 1996, “The Extent and Nature of Tropical Peat Swamps”. In : Maltby et al., (Eds). Tropical Lowland Peatlands of Southeast Asia. Proc. of a Workshop on Integrated Planning and Management of Tropical Lowland Peatlands held at Cisarua, Indonesia, July 3 –8, 1992. IUCN, Gland, Switzerland. p : 15 – 53.
  18. Puslittanak. 2000. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia, Skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.Subagyono, K dan E. Susanti, 1998. Sistem Aliran Satu Arah Sebagai Strategi Pengelolaan Air : Kontribusi, Kendala dan Alternatif Perbaikan.  Prosiding Sem-Nas Dalam : Sudaryono dkk.,  (Eds).  HITI Komda Jatim, di Malang
  19. Salampak, 1999. Peningkatan produktivitas tanah gambut yang disawahkan dengan pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi. Disertasi Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  20. Scheffer dan Schachtschabel, 1989).
  21. Subiksa, IGM., Didi Ardi dan IPG. Widjaja-Adhi, 1991. Pembandingan pengaruh palam dan TSP pada tanah sulfat masam (Typic Sulfaquent) Karang Agung Ulu Sumatera Selatan. Prosiding Pertemuan Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, 3-5 Juni 1991. Cipayung, Jawa Barat.
  22. Shepherd. 2008. Leaching behavior of phosphorus in sandy soils amended with organic material. Soil Sci. 173(4): 257−266.
  23. Sri Nuryani H.U, Didik H.F., A. Maas, 2007, “Kajian Kimia Gambut Hidrofilik dan Hidrofobik Sesudah Diameliorasi”, Prosiding Seminar dan Kongres Nasional IX HITI: Solusi Miskelola Tanah dan Air untuk Memaksimalkan Kesejahteraan Rakyat. UPN Veteran Yogyakarta, 5-7 Desember 2007.
  24. Olde Venterink, T.E. Davidsson , K. Kiehl dan L. Leonardson. 2002.Impact of drying and re-wetting on N, P and K dynamics in a wetland soil. Plant and Soil 243: 119–130, Kluwer Academic Publishers.
  25. Widyati, E., 2011. Kajian optimasi pengelolaan lahan gambut dan Isu perubahan iklim. Tekno Hutan Tanaman 4(2):57-68.
  26. Wargersoun (2001)
  27. WWF, 2008. Deforestation, forest degradation, biodiversity loss and CO2 emision in Riau, Sumatera, Indonesia: one Indonesian propinve’s forest and peat soil carbon loss over a quarter century and it’s plans for the future. WWF Indonesia Tecnical Report. www.wwf.or.id.

Oleh: Dias Gustomo SP MSc Ir. Muhamad Mulyadi MSc, Arif Ardianto SP dan Andreas Silitonga SP – PT. Saraswanti Anugerah Makmur

%d bloggers like this: